image

Free Blogger Templates

This is a Multi Color template one page layout provided by TemplatesBlock.com for free of charge. There are 2 background graphics provided in the "images" folder. You may choose the one you like. Enjoy!

Details

Selasa, 13 Juli 2010

sebuah tanggung jawab kita bersama dalam memaknai penggunaan air


Penghematan dan perawatan sumber air wujud tanggung jawab kita bersama
Penulis : Siti Rochmah Maulida
NIM : 2008.60.004
Secara substansial, kearifan lokal itu adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertingkah-laku sehari-hari masyarakat setempat. Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Pengertian di atas, disusun secara etimologi, di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai ‘kearifan/kebijaksanaan’(dalam Nurma, 2007). Kearifan lingkungan atau kearifan lokal masyarakat (local wisdom) sudah ada di dalam kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu mulai dari zaman pra-sejarah hingga saat ini, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat (Wietoler, 2007), yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, perilaku ini berkembang menjadi suatu kebudayaan di suatu daerah dan akan berkembang secara turun-temurun, secara umum, budaya lokal atau budaya daerah dimaknai sebagai budaya yang berkembang di suatu daerah, yang unsur-unsurnya adalah budaya suku-suku bangsa yang tinggal di daerah itu.
Pada pembahasan kali ini akan dikaji secara khusus contoh kasus tentang pemanfaatan dan pengelolaan air yang dilakukan oleh warga gunung kidul pada umumnya, yang begitu tekun memanfaatkan air dengan prinsip-prinsip penghematan dan perawatan sumber-sumber mata air disekitarnya. Secara umum warga gunung kidul memasukkan aturan pada perawatan dan penghematan air didalam aturan adat didaerah tersebut, jadi inilah yang menjadi dasar masyarakat sekitar dalam merawat sumber air, menghemat air dan memberikan perhatian penuh pada pelestarian sumber-sumber air didaerah gunung kidul. Pada contoh kasus dibawah ini penulis mengambil contoh kasus yang didapatkan dari salah satu artikel Petrasa Wacana
Pusat Studi Manajemen Bencana  Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta di Website UPN Jogjakarta.
Didaerah Gunung Kidul masyarakat sudah hidup selama bertahun-tahun dengan kondisi wilayah yang kekeringan dan kekurangan air walaupun memiliki cadangan air bawah permukaan yang sangat besar jumlahnya, faktor geologis pada wilayah ini sebagai kawasan batugamping yang mengalami proses pelarutan, mengakibatkan pada bagian permukaan kawasan ini merupakan daerah yang kering, masyarakat memanfaatkan sumber-sumber air dari telaga-telaga kars dan gua-gua yang memiliki sumber-sumber air. Kearifan lingkungan masyarakat Gunung Kidul dalam mengelola lingkungannya dilakukan secara bergotong royong untuk menjaga sumber-sumber air yang ada dengan melakukan perlindungan dan membuat aturan-aturan adat yang memberikan  larangan-larangan kepada masyarakat ayang memberikan penilaian negatif dari dampak yang akan ditimbulkan bila tidak dilakukan, untuk dapat menjaga dan mengelola sumber-sumber air yang ada. Kebudayaan lokal pada suatu daerah harus tetap dijaga kelestariannya agar kondisi alamiah dari lingkungannya tetap terjaga, banyak program-program pemerintah yang dilakukan di wilayah Gunung Kidul dalam usaha pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air bawah permukaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Gunung Kidul, tapi program-program yang telah dijalankan oleh pemerintah tidak menjadikan budaya lokal masyarakat sebagai referensi dalam menjalankan program pembangunan di wilayah ini, kawasan kars memiliki karateristik yang berbeda dari kondisi wilayah lainnya, proses pelarutan yang terjadi mengakibatkan adanya perubahan karakteristik dari batugamping, banyak pembangunan infrastruktur sistem perpipaan yang seharusnya dapat menyuplai kebutuhan air untuk masyarakat menjadi tidak berfungsi pada waktu tertentu akibat dari penyumbatan-penyumbatan aliran pipa yang di sebabkan oleh adanya proses pelarutan, pada batuan yang di lewati sumber airnya.
Banyak danau-danau kars yang tidak dapat berfungsi lagi akibat adanya pembangunan waduk di sekitar danau dan dilakukan pengerukan untuk memperdalam tampungan air dengan asumsi akan dapat menambah jumlah persediaan air, tapi justru hal ini harus di bayar mahal dengan hilangnya atau tidak berfungsinya danau akibat dari hilangnya sumber air yang ada masuk ke bawah permukaan melalui rekahan-rekahan batuan hal ini disebabkan oleh hilangnya lapisan lumpur (terarosa) yang berfungsi sebagai penahan air. Sehingga banyak sistem perpipaan dan penampung air yang dibangun hanya menjadi sebuah monumen yang tidak dapat berfungsi. Sejak zaman dahulu masyarakat di wilayah Gunung Kidul telah hidup dalam kondisi kekeringan, namun mereka punya cara tersendiri untuk beradaptasi dengan alam di sekitarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya untuk kebutuhan sehari-hari dan lahan pertanian, ini terus berlangsung hingga sampai saat ini walaupun banyak orang yang sudah mulai meninggalkannya untuk mencari penghidupan di tempat lain yang biasanya di kota-kota besar, tetapi masyarakat di Kawasan Kars Gunung Kidul tetap melakukan kearifan lingkungan yang sudah menjadi budaya lokal yang masih tetap dikembangkan oleh masyarakat setempat. Banyak kearifan lingkungan di wilayah ini yang menjadi program bagi masyarakat untuk mengelola lingkungan dan sumberdaya air serta untuk mengembangkan pariwisata di kawasan kars baik wisata alam maupun wisata minat khusus gua.
Permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pengelolaan kawasan lingkungan di kawasan kars dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama dalam mengembangkan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat untuk menjadi lebih baik. Kebudayaan masyarakat dan kearifan lingkungan masyarakat menjadi pilar utama dalam pengelolaan lingkungan kawasan kars berkelanjutan yang harus didorong bersama oleh masyarakat dan pemerintah dalam menata lingkungan dan sumberdaya air sehingga menjadi lebih baik.
Demikianlah dari sedikit yang bisa disampaikan penulis dalam ertikel ini, banyak manfaat yang didapatkan apabila kita membaca artikel dengan penuh perhatian dan pemahaman. Manfaat yang didapat adalah kita seharusnya sadar akan pemanfaatan sumber daya alam khususnya air, mungkin didaerah kita sekarang air begitu berlimpah dan tumpah ruah dengan kebnaykan asumsi orang tanpa batas dan tiada habis. Itulah sebagian opini atau pola pikir masyarakat yang pada umumnya terbangun. Mereka tidak sadar bahwa sumer air lama kelamaan akan berkurang seiring dengan begitu padatnya permukiman, penggalian galian C, penambangan liar, pemborosan air, global warming dan masih banyak yang lain penyebabnya. Oleh Karena begitu banyak manfaat dari air yang kita dapatkan untuk kelangsungan hidup kita,  sudah sewajibnya kita sebagai umat manusia yang mempunyai tanggung jawab moral dan sosial kepada generasi penerus kita untuk selalu memanfaatkan air dengan bijaksana dan tidak boros penggunaanya. Bersama-sama membangun kesadaran untuk melakukan aksi yang sederhana tetapi mempunyai manfaat besar bagi kehidupan dimasa datang untuk generasi penerus kita yang akan datang. Jika kita menilik pada daerah-daerah lain yang begitu riskan akan bencana kekeringan yang terus melanda, tentunya kita juga ikut merasakan itu sebagai pembelajaran kepada kita semua untuk perilaku kita dimasa yang akan datang.

















DAFTAR PUSTAKA
·        Nurma, ali Ridhwan. 2007. Landasan keilmuan kearifan lokal ( IBDA). Purwokerto.
·        Website :Petrasa Wacana Pusat Studi Manajemen Bencana  Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. 29 Juni 2010.


0 komentar:

Poskan Komentar