image

Free Blogger Templates

This is a Multi Color template one page layout provided by TemplatesBlock.com for free of charge. There are 2 background graphics provided in the "images" folder. You may choose the one you like. Enjoy!

Details

Senin, 27 Juni 2011

Komunikasi Rasionalisasi Para Elit Demokrat ?

Komunikasi Rasionalisasi Para Elit Demokrat

Hampir sebulan kisah perjalanan dan polemik seputar Nazaruddin, mantan bendahara Umum Partai penguasa dinegeri ini bergulir di tengah masyarakat dan media. Nazaruddin disebut-sebut tersangkut kasus di dua kementrian republik ini yakni kementerian pemuda dan olah raga tentang pengadaan wisma atlet dan kementrian pendidikan nasional dengan status sebagai saksi, tetapi dalam dua panggilan yang dilakukan oleh KPK Nazarudddin tidak memenuhinya dengan alasan yang tidak jelas ( kompas.com). Nazaruddin sekarang disinyalir berada di Singapura untuk berobat secara intensif karena sakit. Nazaruddin bertolak ke Singapura pada 23 Mei 2011 atau bertepatan dengan pencopotan dirinya sebagai Bendahara Umum Demokrat dan sehari sebelum keluarnya pencekalan atas dirinya ( kompas.com). Partai Demokrat pun menjatuhkan sangsi terhadap nazaruddin dengan alasan yang “save” yakni agar dapat memperlancar kasus hukum dan pemeriksaan yang dilakukan oleh penegak hukum dan tidak mengganggu kinerja Partai. Begitu halnya dengan yang diungkap oleh Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat Andi Nurpati, Jumat (10/6/2011), mengatakan, Nazaruddin sudah bukan lagi pengurus sejak dicopot dari jabatannya. Apa yang dihadapi saat ini adalah urusan pribadinya (kompas.com). Partai demokrat pun mengatakan hal ini sebagai Ujian bagi partainya "Sampai sejauh ini kita belum mendapatkan itu (desakan untuk tegas). Banyak pemilih malah mendoakan kita agar dapat melampaui, ini bagian sebuah ujian cobaan, ini dalam rangka untuk naik kelas, mudah-mudahan," kata Wakil Sekjen Demokrat Saan Mustopa kepada wartawan, Minggu (12/6/2011). Berbagai macam cara dilakukan oleh para politisi partai demokrat beserta Susilo Bambang Yudhoyono selaku ketua dewan Pembina parati gencar dilakukan semenjak munculnya kasus nazaruddin, yakni dengan Suatu proses penyampaian pendapat, pikiran dan perasaan kepada orang lain yang kemampuannya dipengaruhi oleh lingkungan atau budaya sosialnya yang disebut komunikasi (Beamer & Varner, 2008). Dalam komunikasi tersebut jelas bernada persuasif yang bertujuan untuk mempengaruhi pemikiran & pendapat orang lain agar menyesuaikan pendapat & keinginan komunikator dan Proses komunikasi yang mengajak / membujuk orang lain dengan tujuan mengubah sikap, keyakinan & pendapat sesuai keinginan komunikator, bukan ancaman (Burgoon & Rufner ). Hal ini jelas dilakukan untuk memberikan keamanan terhadap partai agar tidak merusak citra partai Demokrat dimata publik. Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh para elit politik Demokrat dalam hal ini sarat dengan kepentingan politik tentunya, karena dalam teori loyalitas suatu kelompok hal ini wajib dilakukan untuk melindungi kepentingan partai politiknya yang lebih besar agar tidak dipersepsikan negatif dan buruk oleh pihak luar yaitu masyarakat, meskipun terkadang kebenarannya belum bisa dipertanggung jawabkan dan bersifat rasionalisasi belaka.
Sekalipun para elit partai Demokrat gencar melakukan pengamanan citranya, tetapi Kasus “hebohnya” Nazaruddin ini pun menimbulkan banyak wacana dan spekulasi yang menarik minat kalangan pakar politik, peneliti dan masyarakat di negeri ini. Banyak penelitian yang dilakukan oleh berbagai macam pihak diantaranya adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan bahwa dalam hasil penelitiannya pendiri LSI, Denny JA, menyatakan bahwa kuatnya kepercayaan publik bahwa Nazaruddin memang terlibat dalam kasus ini membuat mereka memiliki pertimbangan untuk tidak memberikan suara lagi kepada Demokrat pada masa mendatang. Survei LSI pada tanggal 1-7 Juni 2011 kepada 1.200 responden menunjukkan bahwa 42,4 persen publik akan berpikir ulang untuk memilih Demokrat lagi karena kasus Nazaruddin. Sementara itu, LSI juga menunjukkan perbandingan suara pemilih antara survei pada Januari 2011 dan survei terbaru bulan ini. Pada survei lalu, menurut Denny, 20,5 persen pemilih masih memberikan suaranya untuk Demokrat. Namun, dalam survei kali ini, suara pemilih turun ke angka 15,5 persen. Ada penurunan suara sekitar 5 persen dalam waktu sekitar lima bulan. Survei menyebutkan 41,2 persen responden mengatakan Demokrat kurang tegas. Pendiri LSI Lingkaran mengatakan publik justru disuguhkan keretakan internal secara telanjang dan bukannya upaya untuk menyelesaikan kasus ini (kompas.com).
Hasil survei tersebut jelas menunjukkan sesuatu yang cukup memukul bagi partai Demokrat, karena kuatnya persepsi dan keyakinan publik terhadap kasus Nazaruddin terkait dengan kasus wisma atlet dan kementrian pendidikan. Hal itu menjadi simbolisasi merosotnya derajat kepercayaan masyarakat untuk memilih partai demokrat di pemilu mendatang, hal ini secara logis bisa diterima karena begitu pentingnya posisi Nazaruddin yakni sebelumnya menjabat sebagai Bendahara Umum partai Demokrat yang secara awam pastilah mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan “uang”. Apabila seorang pentolan partai Demokrat diyakini publik terkait dengan kasus tersebut sudah pasti tempat ia bernaung yakni partai Demokrat akan mendapat imbas yang negatif dari kasus yang beredar sekarang ini Berupa merosotnya kepercayaan publik terhadap partai dan terhadap Ketua pembina Partai yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini pun ditambah dengan masih lemahnya niatan Nazaruddin untuk memenuhi panggilan KPK yang kedua kalinya, dengan bersikukuhnya Nazaruddin tidak mau “kembali” ke Indonesia semakin menambah panjangnya perjalanan kasus polemik di partai Demokrat dan lebih Khususnya kasus Nazaruddin.
Dalam hal ini para peneliti dari LSI menghadirkan sesuatu yang berbeda atau bisa dikatakan antitesis dengan semua pernyataan dari politisi partai Nazaruddin bernaung, dengan jalan komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak dan elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat yang disebut dengan komunikasi massa ( Jalaludin Rahmat). Komunikasi massa yang dilakukan oleh LSI juga bernada persuasif karena hal itu berdasarkan data dan fakta hasil penelitian yang valid dan kredibel yang akan mampu merubah keyakinan publik bahwa apa yang disebutkan dalam “Pembelaan Persuasif” partai Demokrat mengenai badai yang menerpa citra dan kepercayaan publik partai Demokrat hanyalah rasionalisasi atau defence mechanisme belaka, karena telah jelas publik memiliki penilaian yang terpercaya sebagai pemilih yang mengatakan bahwa Nazaruddin menyebabkan citra partai merosot dan mempengaruhi kepercayaan publik terhadap partai Demokrat.
Kedua hal tersebut tampaknya menjadi pertarungan yang sangat menarik dalam upaya mempegaruhi publik lewat komunikasi yang dilontarkan oleh kedua belah pihak, yakni para elit Partai demokrat dan LSI. Sekarang hanya masyarakat lah yang kembali menilai apakah percaya pada hasil penelitian survey atau percaya pada ungkapan komunikasi para elit yang lebih bernada Rasionalisasi belaka.

penulis
Siti Rochmah Maulida
Mahasiswi Fakultas Psikologi UMK

0 komentar:

Poskan Komentar