image

Free Blogger Templates

This is a Multi Color template one page layout provided by TemplatesBlock.com for free of charge. There are 2 background graphics provided in the "images" folder. You may choose the one you like. Enjoy!

Details

Jumat, 29 Juli 2011

KEMAH KONSERVASI SEBAGAI SARANA ADVOKASI "MENGENAL KEANEKARAGAMAN HAYATI MURIA "

I. LATAR BELAKANG MASALAH

Kawasan Pegunungan Muria dengan Pucak 29 (baca: songolikur) di ketinggian 1602 M dpl secara administratif terletak di Jawa Tengah, tepatnya di tiga kabupaten yaitu: Kudus, Jepara, dan Pati. Luas hutan keseluruhan Gunung Muria mencapai 69.812,08 ha, terdiri dari wilayah Kabupaten Jepara 20.096, 51 ha, kemudian 47.338 ha masuk wilayah Kabupaten Pati dan 2.377,57 ha berada dalam wilayah Kabupaten Kudus.
Adapun kekayaan Gunung Muria yang dicatat oleh Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati, antara lain berupa sekitar 80 jenis pohon, palem-paleman, dan rumput-rumputan. Jenis pohon hasil dari penanaman, seperti mahoni (Swietenia mahagony) yang ditanam tahun 1942, tusam (Pinus merkusii) yang ditanam tahun 1944, sengon (Albizzia falcate) yang ditanam sporadis, eucalyptus deglupa dan kopi yang mulai ditanam tahun 1942. Dari sisi fauna, dijumpai paling tidak lima jenis ular senduk (Kobra Jawa), sanca hijau, welang, weling, kera, landak, tupai, trenggiling, babi hutan, musang, ayam hutan, kijang, macan tutul, burung trucuk, kutilang, kacer kembang, lutung, cucak hijau, cucak kembang, ledekan, elang, rangkong, plontang, tekukur, gelatik, kuntul, prenjak, perkutut, ciblek, burung madu, truntung, pelatuk bawang, branjangan, burung hantu, dan brubut. (Kompas, 2003).
Berbagai kekayaan jenis satwa dan tumbuhan merupakan ‘aset’ bagi kawasan pengunungan Muria, khususnya bagi masyarakat lokal yang ada di kawasan tersebut dan ini merupakan “amunisi” masyarakat lokal untuk dapat berperan aktif dalam upaya melestarikan keanekaragaman hayati (Widjanarko, 2004).
Mengacu pada pendapat Kurt Lewin (dalam Brigham, 1991), perilaku merupakan fungsi dari peran seseorang dalam berhubungan dengan lingkungan. Hal ini dikenal dengan formula B = f (P,E) bahwa perilaku (Behaviour) harus dipahami sebagai fungsi dari interaksi antara orang (Person) dengan lingkungan (Environmnet) baik yang sifatnya fisik maupun sosial. Karakteristik seseorang mencakup peran yang dimiliki, sehingga dapat dikatakan peran akan mempengaruhi perilaku seseorang.
Seorang individu yang mempunyai peran positif terhadap kelestarian alam, akan cenderung berperilaku yang mendukung kelestarian alam. Mengingat penyebab kerusakan alam adalah perilaku manusia, maka solusi yang tepat bagi masalah tersebut tentunya harus berawal dari perubahan perilaku (Dwyer dkk dalam Sadava & McCreary, 1997). Untuk sampai pada perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan, terlebih dulu kita harus memperbaiki sikap, dalam hal ini dimulai dengan mengubah cara pandang kita terhadap alam, agar kita dapat memiliki peran menjaga kelestarian lingkungan.
Banyak aktivitas kegiatan lingkungan dilakukan oleh instansi pemerintah, organisasi non pemerintah dan mahasiswa pecinta alam (MAPALA) yang dimulai dari serasehan, diskusi, seminar, lokakarya sampai pada pendidikan dan pelatihan (diklat), yang kesemuanya dilakukan untuk menggugah kesadaran dan mengajak manusia dewasa agar dapat mengembangkan rasa peduli dan memiliki sikap kritis terhadap permasalahan lingkungan ataupun pada pengelolaan sumber daya alam, akan tetapi proses pembelajaran pada manusia dewasa seringkali mengalami hambatan untuk implementasinya manakala berhadapan dengan rutinitas kerja dan birokrasi pekerjaan ditambah lagi dengan kebijakan-kebijakan di sektor lingkungan hidup yang ‘lemah’ implementasinya.
Muria Research Center (MRC) Indonesia dengan komitmen untuk mengkaji lingkungan hidup memerlukan sumber daya manusia yang memiliki empati, kemampuan analisa yang terstruktur untuk melakukan tindakan ilmiah seperti: menganalisa, memprediksi dan memberikan pendidikan kritis pada masyarakat akibat kejadian perubahan alam atau tindakan dari perilaku manusia (eksploitasi). Hal ini sebagai bagian dari rasa kemanusian untuk melakukan pengabdian pada masyarakat.





II. KERANGKA KERJA ANALISIS MASALAH

Masalah Akibat Penyebab Solusi
Kurangnya kesadaran masyarakat baik di sekitar pegunungan muria atau lereng pegunungan muria dalam mengenal, menjaga kelestarian alam dan keanekaragaman hayati. Hal ini sangat minim sekali dilaksanakan di kalangan generasi muda di sekitar kabupaten Kudus dalam berbagai bentuk kegiatan lingkungan. 1. Minimnya pengetahuan masyarakat generasi Muda tentang keanekaragaman hayati di pegunungan muria.
2. Berkurangnya keanekaragamn hayati karena perburuan liar, penebangan liar dll.
3. Kerusakan hutan yang semakin besar.
4. Perilaku masyarakat (generasi muda ) yang cenderung tidak peduli. 1. Minimnya sarana atau kegiatan yang mendukung untuk lingkungan khususnya mengenal dan menjaga keanekaragaman hayati pegunungan Muria.
2. Kegiatan disekolah yang jarang sekali melibatkan siswa dalam kegiatan lingkungan dipegunungan Muria.
3. Peran pemerintah dalam memberikan sarana dan fasilitas bagi pendidikan lingkungan bagi generasi muda yang masih rendah. Diadakanya kemah Konservasi dengan tema “‘Mengenal Keanekaragaman Hayati Muria’








III. RENCANA KERJA ADVOKASI

TUJUAN DAN SASARAN TARGET ADVOKASI ORGANISASI TAKTIK KEGIATAN JANGKA WAKTU
1. Mengenalkan instrumen lingkungan pada siswa-siswi SMA di Kabupaten kudus
2. Membekali pengetahuan teori dan praktek konservasi pada siwa-siswi SMA di Kabupaten Kudus
Siswa-siswi SMA sederajat diseluruh kabupaten Kudus. 1. MRC Indonesia (sebagai pelaksana, pemateri dan kepanitian)
2. Paguyuban masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) Colo, kec Dawe Kudus.(pemateri )
3. Dinas Lingkungan HIdup Kudus(pemateri).
4. Sekolah SMA dan SMK sederajat di Seluruh Kab.kudus(peserta: delegasi pengiriman siswa).
5. Dinas pendidikan dan pemuda olah raga Kab. Kudus( izin rekomendasi). 1. Teori tentang pembekalan kegiatan konservasi.
2. Praktek kegiatan konservasi keanekaragaman hayati dipegunungan muria(mengukur debit air,birdwatching,penggunaan GPS dll.) Sabtu-Minggu, tanggal 07-08 Mei 2011



IV. MEDIA ADVOKASI
Dalam kegiatan Kemah konservasi kali ini kami menggunakan beragam media advokasi, yaitu :
a. Sticker.
b. Penyampaian materi untuk memperkaya pengetahuan peserta.
c. Materi dari para pamateri.
d. Diskusi kelompok terarah tentang lingkungan.
e. praktek

V. ADVOKASI

MRC. Indonesia merupakan Lembaga non Profit yang bergerak dibidang lingkungan yang konsentrasi nya ialah kawasan pegunungan atau lereng gunung Muria yang terdapat tiga kabupaten yakni Kudus, Pati dan Jepara. Banyak kegiatan yang telah dilakukan oleh MRC Indonesia selama ini khususnya yang berkaitan dengan lingkungan diantaranya penelitian tentang kajian kebijakan tentang Resiko bencana di 3 Kabupaten pegunungan Muria, studi lapangan tentang keanekaragaman hayati pada tahun 2004, pendidikan lingkungan terhadap siswa SD dikabupaten Kudus dan masih banyak kegiatan yang lain yang berhubungan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan kemah konservasi yang diprakarsai oleh MRC Indonesia ini merupakan salah satu kegiatan yang salah satunya merupakan komitmen dari MRC Indonesia untuk peduli dan konsisten dengan kelestarian lingkungan dikawasan Muria. Kemah konservasi yang dilaksanakan dua hari pada Sabtu sampai Minggu, tanggal 07-08 Mei 2011 diikuti oleh sekitar 20 Orang Siswa SMA dan Mahasiswa mengambil tema “mengenal keanekaragaman hayati Muria”. Kelangsungan acara kemah konservasi sendiri bertempat di bukit Mbangselo, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Dalam pelaksanaan nya kemah konservasi menekankan pada dua aspek penting untuk pembekalan kepada peserta yakni pembekalan teoritis dan praktek yang dijadikan sebagai sarana untuk lebih mengefektifkan dan memaksimalkan kemampuan peserta setelah melakukan kemah ini. Selain hal tersebut sarana yang digunakan untuk lebih mengaktifkan peran peserta dan meningkatkan daya piker dan analisis peserta juga dilaksanakan diskusi kelompok terarah.
Pada hari pertama, Sabtu 07 Mei 2011 peserta dibekali materi Analisa Sosial (Ansos) yang di sampaikan oleh Mohammad Khasan,S.Psi salah peneliti muda Muria Research Center (MRC) Indonesia yang memiliki pengalaman asisten riset kebencanaan di 12 desa Kawasan Muria dan skripsi dengan tema bencana di Desa Setro kalangan, Kudus. Analisa sosial ini sebuah metode penggalian data yang memiliki tujuan untuk membuat kritis pelaku analisa sosial dan membuat pengorganisasian di basis.Dijelaskan mulai dari teori analisa sosial sampai bagaimana pelaksanaan dilakukan. Dalam hal ini para peserta di bekali bagaimana menjadi seorang yang kritis secara ilmiah atau dengan metodologi yang benar khususnya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan misalnya dengan kebijakan pemerintah, perilaku masyarakat dll. Diharapkan dengan pengetahuan ini para peserta mengerti dan mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang ada di sekitarnya.
Setelah materi analisa sosial, dilanjutkan materi dari Perwakilan kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus yaitu Ibu Siti Rokhimah, ST, M.Si, Kepala Seksi Pelestarian dan Pemulihan Sumber Daya Alam yang menjabarkan tema peran pemerintah dalam pelestarian lingkungan.
Penjabarannya sebagai berikut: Upaya Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dilakukan Berdasarkan pasal 2 UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup antara lain menggunakan asas kelestarian dan keberlanjutan, asas keserasian dan keseimbangan, dan asas keanekaragaman hayati.
Asas kelestarian dan keberlanjutan adalah bahwa setiap orang memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Maksud dengan “asas keserasian dan keseimbangan” adalah bahwa pemanfaatan lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan perlindungan serta pelestarian ekosistem.
Peningkatan pengelolaan keanekaragaman hayati diantaranya dengan: bantuan 1.000 batang bibit “Macadamia,sp.” dari BLH Prov. Jateng kepada Kelompok tani Culo Saloko (Desa Rahtawu) dan Kelompok Tani Renteng (Desa Ternadi). Identifikasi Potensi Plasma Nutfah di Kec. Jekulo dan Dawe, Kec. Gebog dan Bae.
Terakhir, Ibu Siti menandaskan bahwa pengelolaan lingkungan dalam upaya pemulihan lingkungan Kawasan Gunung Muria menuntut koordinasi aktif dari berbagai instansi perencana pada berbagai level. Dalam pengelolaan kawasan hutan negara, khususnya di kawasan hutan negara wilayah Gunung Muria, pemerintah tidak dapat berbuat banyak tanpa adanya partisipasi masyarakat, pengusaha, dan stakeholder terkait. Diharapkan dengan program tersebut bisa mengembalikan dan meningkatkan kualitas hutan di Kabupaten Kudus sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat, dan lebih dari itu juga melindungi masyarakat di Kabupaten Kudus.
Setelah materi Dari perwakilan Kantor Perwakilan Hidup Kudus dilanjutkan dengan materi mengenai instrumen lingkungan yaitu pengamatan burung yang diberikan Direktur MRC Indonesia, M. Widjanarko yang menjelaskan dengan detail mulai dari data keberagaman jenis burung di Muria tahun 2004 yang pernah dilakukan dengan menjelajahi Muria. ”Jenis burung yang ada di kawasan Muria sampai pada bagaimana pengamatan burung menjadi salah satu instrumen penting dalam pelestarian lingkungan,” jelas Widjanarko saat menyampaikan materinya.
Semakin banyak jenis burung di suatu kawasan itu masih bagus kondisi lingkungannya, burung merupakan salah satu binatang yang banyak membantu manusia dalam penyerbukan tanaman, membasmi hama di tanaman secara alami juga menyebarkan bibit tanaman.
Selain hal tersebut juga dijelaskan tujuan untuk melakukan pengamatan burung, karena tertarik karena warnanya tertarik karena suaranya, tertarik karena tingkah lakunya dengan tidak memenjarakan burung tapi menikmati di alam bebas sehingga menjadikan pengamatan burung merupakan aktivitas hobi, olahraga jalan kaki dan sebagai salah satu Intrumen lingkungan.
Dalam penjalanan penjelajahan burung dari Gunung Mbangselo (tempat kemah) sampai ke Gunung Pasar (Mbecici) pada hari itu sekitar jam 14:30 WIB. Saat melakukan pengamatan burung oleh tim kemah konservasi menemukan beberapa 12 jenis burung antara lain Burung Alap – alap, Burung bentet kelabu, Burung bondol jawa, Burung madu sepah raja, Burung cabe jawa, Burung cabe polos, Burung cinenen gunung, Burung cucak kutilang, Elang brontok, Burung walet sapi, Burung cekakak sungai dan Burung Prenjak.
Di puncak Gunung Pasar terdapat sebuah di Tower Kodam dalam catatan yang dilakukan oleh tim di GPS jam 16:20, 7 Mei ketinggian 1046 dpl daerah tersebut berada koordinat S 06039.603’ dan E110053.822’. Disana selain melakukan pengamatan burung kita juga bisa melihat dengan jelas salah satu pegunungan Muria, Argo Jembangan, sebuah bukit yang biasanya di sebut oleh masyarakat setempat sebagai gunung punuk sapi, bentuknya seperti punukan sapi.

Pada hari kedua, peserta kemah konservasi melakukan perjalanan lingkungan dengan agenda melakukan penghitungan debit air di sungai rejenu, sekitar air tiga rasa, dan berlatih menggunakan alat GPS (Global Position System) untuk menentukan titik lokasi. Peserta yang dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing beranggotakan lima peserta secara bergantian melakukan pengitungan debit air dan menggunakan GPS. Saat melakukan penghitungan debit air peserta yang sudah berkelompok dibawahi perkorodinator masing-masing untuk bertugas sebagai pencatat, pengukur dan sebagai penghitung waktu. Debit air yang ditemukan tim adalah 0,2025 M3/detik.
Pelaksanaan kemah konservasi ditutup dengan acara ramah tamah antar semua paserta dan panitia penyelenggara dengan mengunjungi kawasan wisata air terjun Montel, setelah dirasa cukup dan puas menikmati indahnya panorama air terjun dan merasakan dinginya air Montel kita menuju lokasi kemah untuk upacara penutupan, upacara penutupan di akhiri dengan ikrar janji untuk setia terhadap komitmen masing-masing diri peduli terhadap lingkungan.














VI. MENILAI DAMPAK ADVOKASI

DIMENSI TUJUAN INDIKATOR HASIL SARANA VERIFIKASI
pada pelaksanaan kemah konservasi peserta cukup antusias dengan berbagai macvam rangakain kegiatan yang dilakukan misalnya :penyampaian materi, dalam sesi ini peserta aktif bertanya dan berdiskusi dengan para nara sumber atau dengan peserta yang lainnya. Dalam hal pengukuran debit air juga peserta mengikuti dengan antusias terlihat mereka sangat menikmatinya. Para pserta juga menjelakan kepada kami bahwa pendidikan seperti ini penting untuk peduli terhadap lingkungan, karena selama ini hanya lebih terfokus pada hal-hal yang bersifat akademis /sekolah. 1. Mengenalkan instrumen lingkungan pada siswa-siswi SMA di Kabupaten kudus
2. Membekali pengetahuan teori dan praktek konservasi pada siwa-siswi SMA di Kabupaten Kudus
1.peserta aktif dalam mengikuti sesi penyampaian materi.
2. peserta aktif dalam mengikuti sesi praktek.
3. tercipta suasana kekeluargaan antara sesama peserta dan panitia atau semuanya.
4. peserta mengatakan bahwa kegiatan seperti ini bisa dilakukan lagi lain waktu dengan jumlah peserta yang lebih banyak. HAL-hal yang dihasilkan dalam kemah konservasi adalah :
1. Tambahan pengetahuan(knowledge) para peserta kemah konservasi yakni mengetahui analisis social dan pelaksanannya, mengukur debit air, mengamati burung(birdwatching),alat GPS dan teropong, jenis-jenis satwa dan tumbuhan yang ada di Muria.
2. Peserta kemah konservasi memperoleh bekal keterampilan dalam menggunakan alat-alat seperti GPS, teropong, alat pengukur debit air dan peserta juga mampu mempraktekkan diri dalam pengukuran debit air dan pengenalan keanekaragaman tumbuhan dan hewan(burung)yang ada di Muria.
3. Memiliki kumpulam generasi muda yang mengenal keankeragaman hayati dan memiliki bekal pengathuan dan keterampialn pada hal – hal yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini juga bisa digunakan untuk sarana pemicu untuk generasi muda yang lain agar mendapatkan ilmu tersebut(sebgaai tunas). Hal-hal yang digunakan untuk sarana verifikasi :
1. Menggunakan mdia angket untuk evaluasi kegiatan terhadap peserta kemah.
2. Mengadakan fgd untuk evaluasi dengan peserta dan panitia.
3. Mengadakan evaluasi internal dengan seluruh panitia tentang pelaksanaan kemah konservasi baik kelebihan atau kekurangannya.


VII. SIMPULAN

Kegiatan kemah konservasi yang telah dilakukan merupakan bagian dari advokasi dan kepedulian MRC. Indonesia terhadap generasi muda yang ada di Kabupaten Kudus agar peduli terhadap lingkungan dipegunungan Muria khususnya dan sebagai bagian dari komitmen Mrc. Indonesia untuk membengkitkan kepedulian generasi muda (siswa-siswi SMA sederajat) untuk mengenal keanekaragaman hayati di Muria.
Kegiatan kemah konservasi yang dilakukan merupakan bagian dari kerjasama anggota Mrc. Indonesia untuk menjalankan program kerja yang dibuat. Dalam pelaksanaanya kemah konservasi mengalami berbagai macam kendala dan rintangan, tetapi alhamdulillah semua dapat teratasi dengan baik.
Pelaksanaan kemah konservasi tentunya merupakan salah satu kegiatan yang sangat bagus dilakukan untuk masa-masa sekarang ini, penyelenggaraan yang lebih baik haruslah dilaksanakan untuk dimasa-mas mendatang karena memiliki manfaat yang bagus sekali.

0 komentar:

Poskan Komentar